Perspective is matter

The frame you use to tell the story changes we feel about the life we live. And also perspective can also changes see the way we see.

Setiap hidup orang itu berbeda beda, pernah gak ada lihat orang tiap hari kerjaannya marah marah terus? Padahal punya pekerjaan yang bagus, tubuh yang sehat, keluarga yang utuh tapi ya marah aja. Pernah liat juga orang yang hidupnya lempeng aja, kayanya kok bahagia banget ya? Kok ga pernah keliatan sedih, atau stress dll?

Hidup itu kalau kata orang kaya cerita, entah cerita drama, dongeng atau cerita horor. Siapa yang menentukan ceritanya? Ya kita sendiri.

Misalnya aku, aku mungkin sekarang lagi tahap stress menghadapi banyak masalah. Dari mulai kehilangan Ayana, harus menata diri secara psikologis dan mental, harus support suami ku baik di rumah dan pekerjaan karena suamiku bekerja di kantor sendiri dengan menghidupi beberapa karyawan, pengeluaran rumah tangga bulanan yang harus diperhitungkan, pengeluaran operasional kantor, harus nabung, belum lagi kemarin harus dirawat di rs dengan biaya puluhan juta. Di usia ku yang 25 tahun ini mana pernah aku berpikir untuk menghadapi hal seperti ini. hal-hal itu cukup bikin aku harus banyak istigfar agar tetap waras.

Barusan aku nonton sebuah kelas inspirasi gitu, tentang cara memandang hidup. Sebenernya banyak orang yang menuntut hidupnya mau indah seperti dongeng tapi tidak pernah mengubah cara pandang mereka akan kehidupan. Duh berat ya bahasanya.

Aku punya teman, kerjaannya selalu membicarakan kehidupan orang lain. Apapun achievement temennya, pasti ada aja negatifnya.. “si A hebat ya sekarang kerja di perusahaan x..” pasti si temen ku satu ini nanggepin “aah paling juga cuma magang, paling gajinya kecil, paling dititipin bapaknya”

Kayanya di dunia ini gak pernah ada yang benar, intinya selalu ada celah untuk mencela. Ibaratnya, dia selalu iri sama pencapaian orang, akhirnya cerita hidupnya dia di isi dengan fokus sama hidup orang lain. Sampai mungkin dia lupa dengan kebahagiaan hidupnya dia.

Aku punya temen, anaknya cantik sekali karena selalu senyum dan periang. Dia kerja kirain buat iseng iseng abis anaknya kaya bukan anak kesusahan gitu, ternyata dia kerja sebagai tulang punggung keluarga, bayar listrik, kasih uang ibunya, belanja bulanan, kalau makan pasti bekal, karena biar bisa nabung kalau mau beli sesuatu, tapi aku gak pernah tau hal itu sampai pas aku ajak makan sushi dia menolak dan baru dia cerita kenapa dia nolak. Yang ini ceritanya indah ya.

walaupun keadaan temen aku di cerita pertama lebih enak, fasilitas berlimpah, tapi temen ku yang kedua lebih bahagia memaknai hidupnya.

Masih dalam episode pengantin baru yang baru saja kehilangan buah hatinya, sempat berpikir kenapa hidup aku ini seolah olah cerita horor. Kenapa seolah mimpi aku untuk punya keluarga kecil yang bahagia tiba-tiba kandas, kenapa? Aku harus nyalahin siapa? Tuhan? Gak mungkin. Aku masih di kasih napas aja udah syukur, makasih ya Allah. Salahin suami? Gak mungkin. Suami aku udah rela berkorban waktu tenaga materi demi aku. Orang tua? Ga mungkin. Mereka itu segalanya bagi aku. Jadi aku harus nyalahin siapa?

Capek kalau harus mikir aku harus nyalahin siapa. Aku gakmau aku semakin gak waras dengan episode hidup aku sekarang. Kalau dibuat film, mungkin film ini jadi film yang isinya cuma kesedihan, ratapan, gatau ujungnya apa. Pemerannya gak dapet faedah apa apa. Meaningless banget.

Sekarang kita coba untuk melihat cerita aku dari sudut pandang lain.

Kehilangan Ayana membuat aku sadar bahwa setiap mahluk hidup pasti akan mati. Ayana nunjukin bahwa aku dan suami harus sadar bahwa ada kekuatan lain yang Maha Besar yang berperan dalam kehidupan kita. Kepergian Ayana juga menjadi titik balik kami untuk saling berserah dan pasrah. Dan mungkin, kami berdua disuruh pacaran dulu dan mengurus pekerjaan sampai nanti waktunya diberikan lagi adiknya Ayana sama Allah. Aamiin.

Dari segi pekerjaan, mungkin suami aku bukan pegawai kantoran yang digaji tiap bulan. Dia harus menggaji orang. Ini yang bikin aku deg degan. Cukup ga ya uang nya. Mau minta beliin baju tapi gak usah deh, pengen liburan tapi kok mahal dll. Sekarang aku ubah sudut pandangnya. Alhamdulillah suami aku adalah suami yang bertanggung jawab, bukan hanya terhadap aku namun juga kepada karyawannya. Walaupun banyak hal yang terjadi tapi dia selalu berusaha, selama masih diberikan kesehatan, akal sehat dan hati nurani, semua bisa diusahakan. Walaupun penghasilan kami based on project namun alhamdulillah kami masih sangat berkecukupan hingga saat ini.

Rasanya benar ya, nikmat Allah itu tidak akan pernah cukup kalau kita hitung. Kalau nikmat nya aja udah banyak, kenapa kita harus menghitung yang gak nikmat ya? Musibah ini aku percaya sebagai insyaAllah awal yang baik buat rumah tangga dan kehidupan aku ke depannya.

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55] )

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ ﴿٣٤﴾

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14] : 34)

Advertisements

Marriage (1)

Setelah kehilangan Ayana, anak kami tercinta di usia kandungan belum genap enam bulan, aku dan suami memutuskan untuk bangkit. Haduh, baru sebentar kok sudah bisa bangkit? Hmm sebenernya sih belum recovery 100% ya karena siapa sih yang siap ditinggal anak untuk selama lamanya? Tapi aku berpikir kalau pikiran aku selalu sedih dan down jadi negatif itu bakal pengaruh banget ke kondisi psikologis aku yang mana aku masih rumah tangga baru dan masih panjaaaang perjalanan aku dengan suamiku. Aku berpikir kalau pikiran aku negatif terus, aku bisa jadi istri yang ga menyenangkan dikala suami aku capek, aku malah grumpy, ga nyenengin, belum lagi kemarin setelah sempat hamil enam bulan aku sempat naik berat badan. Jadi, aku simpan aja energi aku untuk merawat suamiku, diri sendiri dan membahagiakan pernikahan ku yang masih seumur jagung ini 😊

Sampai saat ini, aku sudah bisa menerima kalau Ayana, anak pertama kami sudah pergi terlebih dahulu ke surga, perasaan sedih itu ada banget, bahkan sampai pada tahap kesel nyalahin diri sendiri, dan nyesel se nyesel nyeselnya. Tiap kali berasa kaya gitu, aku coba istigfar dan inget muka suamiku dan juga mama papa ku. Sewaktu aku dirawat kemarin doa dan support mereka ga putus-putus untuk aku dan Ayana. Sampai pada akhirnya di titik kami semua harus ikhlas dan aku lah yang paling harus ikhlas.

Kali ini aku ga akan membicarakan tentang kesedihan aku, karena justru aku ingin terus berpikir positif terus. Aku mau positif untuk kehidupan aku yang lebih baik lagi, karena dengan positif aku percaya Allah akan bisa kasih kepercayaan kepada aku dan suami lagi untuk segera dapet adiknya Ayana (aamiin in yuk hehe)

Tulisan kali ini, aku persembahkan untuk suami ku tercinta, Bagus Imam Darmawan. Mungkin kalau aku bisa ungkapin gimana mendeskripsikan dia, sekuel Harry Potter mungkin kalah kali ya, hehe lebay. Dan mungkin mulai saat ini aku akan lebih sering menulis tentang rasa syukur aku terhadap apa yang sudah Allah kasih ke aku, semoga gak Riya ya jatuhnya 😊

Setelah enam bulan menikah, aku belum pernah menceritakan kehidupan baru aku. Jadi apa sih bedanya? Selama enam bulan ini, tidak ada yang berubah. Suami ku yang aku kenal Oktober 2016 kemarin dengan suamiku di tahun 2018 ini masih sama, sama baiknya, sama gendutnya, sama jayusnya, sama ngangeninnya, bahkan lebih.

Jadi di pernikahan enam bulan kami, aku udah banyaak ngalamin hal yang luar biasa. Suka dan duka.

Setelah nikah dengan si sayangku ini, aku jadi bisa jadi seorang istri, ini sih kan kepengenan dari kecil pengen nikah haha. Alhamdulillah terwujud, udah gitu suaminya idaman banget lagi (ini sih menurut aku ya hehe) Dreams come true. Bisa dibilang mungkin aku belum jadi istri yang baik. Aku males banget hehe. Tapi emang masih jet-lag ya dari single terus sekarang double, dari apa apa tinggal teriak mama atau minta tolong mbak, sekarang diteriakin “yaang kopi, yang baju aku mana, yaaang besok bangunin jam 3..” dan lainnya. Duh rempong ya kirain nikah terus tugasnya ngelonin suami doang.. ga taunya 😝. Aku belajar banget jadi seorang istri, apalagi suamiku ini berbeda dengan suami suami lain, maksudnya gimana nih? Maksudnya kan mindset aku tuh suami ya kerja jam nya 8-5 tiap hari ke kantor terus digaji, aku udah bayangin kalau suami aku tuh kerja kantoran gitu, sekarang aku harus siap kalo suami aku tuh beda dengan mindset suami yang ada di otak aku. Suami aku punya usaha sendiri dan alhamdulillah bisa memperkerjakan beberapa orang karyawan sehingga aku harus.. aku harus apa? Hahah nah iya aku bingung gimana nih ngatur waktu, uang dan lainnya. Yaa ga gimana gimana, harus belajar. Pokoknya ternyata, jadi istri ga ada matematikanya, pake feeling dan perhitungan juga. Emang bener ya nikah itu harus di dasarkan cinta, kalo enggak nanti semua dihitung terus pusing lalu pingsan 😝

Alhamdulillah, jadi seorang istri aku bilang enaaak banget! Apalagi kalau kamu nikah sama orang yang tepat. Tepat itu persepsi masing-masing. Kuncinya jangan suka banding bandingin deh! “Sayang, sitemen aku di beliin iphone xxx sama suaminya, ya ampun enak banget!” Padahal suami kita baru aja beliin kita sesuatu tapi karena istrinya selalu lihat orang lain jadi lupa deh apa yang udah di kasih suami. Sering gak pada kaya gini? Ngaku deh 😝 terus kebayang gak gimana perasaan suaminya? “Duh ni istri gue baru aja gue beliin baju sama sepatu masih aja nuntut.” Dan seterusnya lingkaran ini akan berlanjut. Naudzubillah! suamiku orang yang pekerja keras, jadi dia selalu ingetin aku untuk bersyukur karena hidup aku bisa dibilang tidak kekurangan bahkan bahagia banget.

Emang bener kunci bahagia itu tidak hanya terletak pada segi material things aja. Walau kalau gak punya uang gak enak juga sih hehe, tapi bener deh kalau aku ngomong cinta itu kunci bahagia pada percaya gaksih?

Sepuluh hari waktu aku di rawat karena mempertahankan Ayana, membuat aku sadar apa arti hidup seseorang, terutama arti kehadiran dan kasih sayang. Sepuluh hari kemarin mama papa dan suami ku siaga banget dalam meladeni aku yang bener-bener harus diam di kasur, sampai pipis dan poop aja di pispot. Tapi mereka sabar cekokin aku makan, pijet pijet, elus elus, doain aku. Kali ini aku ga akan bahas mama papa ku dulu ya, itu nanti aku akan tulis sendiri, karena mereka kalo di deskripsiin juga disinu mungkin kaya buku sejarah satu dunia, gak habis habis banyak banget hehe.

Sepuluh hari kemarin, bisa dibilang membukakan mata aku akan pentingnya kehadiran dan kasih sayang suami. Selama melewati hari hari itu suami ku gak pernah absen nemenin aku dan selalu perhatian sama aku. Tiap malam kita pun suka berdua ngobrol sambil nangis-nangis, kita berdua saling bersyukur punya Ayana, punya kehidupan yang sempurna, bersyukur karena saling menguatkan, paling bersyukur kami berdua tidak sama sekali pernah menyesal memiliki satu sama lain. Aku gak berhenti menangis melihat suami ku selalu duduk disamping aku, berdoa, ciumin aku, ya Allah terima kasih.

Kehilangan Ayana memang beraaat banget, buat aku dan suamiku. Tapi dibalik itu, Ayana udah bikin aku dan suamiku semakin dekat secara emosional. Tapi efeknya sekarang kalau ditinggal suami rasanya nangis terus mau sama sama terus, kasian dia jadi ribet.

Aku cerita seperti ini, mungkin kedengerannya cheesy ya? Hmm ibaratnya aku nih needy banget. Well you can call me whatever you want, tapiii sepuluh hari kemarin benar benar bikin aku bersyukur banget punya suami kaya suami aku, dan buat kalian yang baca, kalian juga harus bersyukur kalau sudah punya pasangan. Karena setiap pasangan yang udah ditakdirin sama kita itu udah fits perfectly sama kita, ga perlu suami aku harus kaya suami kamu, dan sebaliknya, ga perlu juga suami kita harus dituntut kaya suami suami selebgram ituh anniversary dikasih Mercedes, valentine dikasih diamond, well kalo itu dilakukan murni tanpa tuntutan sih gak papa yah asal jangan ada unsur pemaksaan ya.

Percaya deh, apa yang kamu lihat diluar sana tentang pasangan ideal gak melulu tanpa konflik dan ketidaksesuaian. Karena ga mungkin orang nunjukin konflik mereka di media sosial. Pokoknya kuncinya bahagia itu adalah biarin hubungan kalian mengalir tanpa saling memaksa. Melainkan saling mendukung dan memahami. Jangan mengumbar aib pasangan sekecil apapun, istri bahagia, suami bahagia, rumah tangga akan sejahtera. Karena kehidupan semuanya mulai dari rumah, rumah tangga kita juga harus sehat!

Sekali lagi, terima kasih ya Mas Bagus sayangku atas cintanya, terima kasih sudah memilih aku sebagai teman hidup yang gak bisa di ganti ganti lagi loh, terima kasih atas segala gala galanya. Maafin aku kalau aku masih jauuh dari sempurna, tapi aku berjanji untuk selalu berusaha lebih baik lagi setiap harinya. Semoga kita semakin bahagia dan selalu mengucap syukur atas segala yang sudah Allah kasih kepada kita.

Aku gak bisa kasih apa apa, aku nulis ini juga karena aku bingung saking kangennya mau ngapain sementara kamu sekarang lagi kerja di Bali (ngiri deh ga diajak ke Bali huhu). Love you, Papaya 🤗🤗🤗

Engagement stuff – Kebaya

Hai, postingan kali ini gue akan membahas sesuatu yang menjadi salah satu perbincangan di antara tamu-tamu pesta lamaran gue kemarin, yaitu KEBAYA.

Kebaya merupakan barang wajib buat orang Indonesia (terutama wanita Jawa) dalam setiap event- event penting dan sakral. Dalam banyak event, kebaya dipakai agar wanita (jawa) bisa terlihat anggun, terhormat, dan sekaligus stylist nan sexy 😛 Kebaya sering banget kita jumpai, gak cuma dipakai untuk nikahan sebagai pengantin, namun kebaya sering dipakai seperti di acara kondangan, wisuda, lamaran, hari-hari nasional, dipakai untuk acara kenegaraan bahkan ritual budaya. Indonesia kan multicultural banget ya, diversity in united, apasih hehe. Makanya kebaya tuh udah kaya baju nasional yang bisa dipakai sama semua orang dan berasa Indonesia banget!

Menurut hasil baca-baca dan ke sotoy-an gue, kebaya sendiri macemnya banyak dan asalnya juga dari berbagai penjuru Indonesia. Ada kebaya Jawa, yang ini paling gue tahu, ada kebaya encim dari Betawi, dan lain-lain hehe. ketahuan banget ya ilmu gue cetek.

Nah, kenapa sih akhirnya gue ngomongin kebaya? well, gue memang sering pakai kebaya, dari bikin buat wisuda maupun dapet buat seragam nikahan temen maupun sodara, tapi gue ga pernah menanggapi kebaya dengan serius. Artinya, gue selalu bikin kebaya yaudahlah yang penting jadi. Sampai pada akhirnya, di acara big day gue, gue mau sesuatu yang beda. kenapa beda, gue mau kebaya gue mengesankan di pakai di badan gue.

akhirnya dari tiga bulan sebelum lamaran, gue udah search, kebaya apa yang cocok di badan, model dan warnanya. Dan paling penting adalah, dimana jahitnya!

udah nanya ke berapa tempat salah satunya the famous Vera kebaya, turns out malah jadi serem yah, karena satu kebaya di bandrol dengan harga minimal 15 juta. Geez, out of my budget. Nah ada satu penjahit yang memang udah di incar sih sebenernya, penjahitnya ini rekomendasi dari saudara sepupu, udah lihat sendiri hasil dari jahitanya, karena dia jahit untuk wisuda, seketika jatuh cinta. Akhirnya, gue memutuskan untuk jahit disana, nama penjahitnya adalah Cik Ross. Jangan expect Cik Ross ini penjahit ala vera kebaya, jauh! tapi hasil jahitannya, boleh diadu! hehe.

Nah di Cik Ross ini kita gak bisa tuh jahit waktu mepet-mepet. maksimal spare waktu nya ada dua bulan, itupun kalau sepi, kalau rame siap-siap ditolak, waktu aman untuk bisa jahit disana adalah 3-4 bulan sebelum acara. Dan gue cuma ngingetin ya kalau si Cik Ross ini galak, moody dan banyak ngomong. hahhaa. Banyak ngomong in a good way ya, jadi tuh dia seneng cerita, dan seneng dengerin kita kaya konsultasi gitu lah, kebaya apa yang cocok modelnya, payet nya seperti apa, rok nya dibuat seperti apa, dan lain lain. Jadi kadang sebelnya, kalo kita udah punya model, bisa tuh di ganti sama dia karena menurut dia, bagusan yang dia bayangin hehe.

Nah sebelum ke cik ross, gue sama mama memutuskan untuk membeli bahan di Pronto, tapi ga di Mayestik melainkan di Pronto Bintaro. Kenapa milih Pronto? karena pertama tempatnya enak dan besar, ini jadi pertimbangan banget yah, karena kalau milih bahan yang banyak segambreng tapi suasana dan service nya riweuh bisa jadi salah pilih. Kedua Pronto ini toko besar, jadi saya percaya dengan harga dan kualitas yang bagus. Setelah ke Pronto, gue memutuskan untuk beli bahan Perancis. Konon bahan perancis itu adalah bahan yang enaaaak untuk dipakai dan bahkan Vera Kebaya juga pake tuh bahan Perancis. Kalau dilihat bahan perancis sih emang ga ada yang istimewa, kalau menurut gue malah kaya bahan nenek-nenek. Dengan bahan yang biasa aja, polos, ga ada payet, satu meter kain dihargai Rp.1.xxx.xxx dan untuk bikin kebaya, gue butuh 2meter. Warna yang gue pilih merupakan warna yang gue suka, yaitu warna pastel Nude yang menyatu dengan kulit.

Nah setelah beli brukat, beberapa hari kemudian, gue beli kain sarimbit untuk gue dan mas Bagus. Kain sarimbit gue beli di butik di Thamrin City, harga sarimbit sutera tulis, dibanderol Rp.3.xxx.xxx. Gue memilih sarimbit berwarna cokelat dengan motif yang gak terlalu rame.

Nah sesudah lengkap bahan-bahannya, maka gue langsung jahit di CIkross. ada insiden sih pas mau ambil jahitan, Nota gue ilang dan dia marah-marah. padahal kan harusnya dia bisa lihat di buku nya dia. sebel!. ini yang kurang dari cikross, selain tempatnya yang nyempil, pelayanannya ampun deh kalo lagi moody! Jahit Di Cikross, totalnya hanya Rp.1.xxx.xxx,-

Waktu jahit yang dibutuhkan adalah dua bulan, gue naroh itu di bulan January awal, dan diambil di awal April.

Reviewnya, kebaya dengan bahan perancis ini memang enak banget, harga ga bohong yah! gak gatel dan mengikuti postur badan, enak banget! Payet details cikross bagus, payetnya berpola sesuai bunga di brukatnya, dan banyak aksesn mutiaranya. Payetnya walau warna senada tapi nyala. keren banget. Buat yang mau tau cikross ada dimana, dia workshop nya ada di rawamangun, di Jalan Pemuda, di Gang nasi uduk kebon kacang, parkir aja disitu, jalan skeitar 200m nanti workshopnya ada di sebelah kiri jalan. Jangan kesana hari Minggu, karena dia tutup!

Penasaran kan gimana jadinya, ini dia penampakan Kebaya gue.

DSC_0641.JPGDSC_0424.JPG

DSC_0408

Back details

DSC_0105.JPG

Details is everything

Nonton film di bioskop 4DX 

It’s long weekend! Seneng banget ya selama dua minggu berturut-turut masyarakat Indonesia, terutama kelas pekerja dan pelajar bisa napas agak panjang karena banyak libur, hehe. 

Banyak banget yang bisa kita lakuin untuk mengisi libur panjang, dari pergi keluar kota sampai ngabisin waktu buat leyeh-leyeh di rumah. Buat long weekend kali ini, gue menghabiskan waktu dengan Mas Bagus di Jakarta. 

Ada sedikit cerita lucu dan romantis dibalik long weekend kali ini. Jadi Mas Bagus dan gue udah 2 minggu gak ketemu, tapi gue ga mungkin ke Bandung, karena macet dan ga kebagian travel. Akhirnya diputuskan untuk ga ketemu dulu (lagi). Bete gak? Ya bete banget lah! Tapi sok sok ga bete, hmm. Akhirnya  sore-sore sehabis meeting seharian, ke meja kantor, tiba-tiba ada bouquet bunga dan notes isinya “aku ada di tempat kita suka ngobrol” itu yang namanya lemes, seneng, kesel, bahagia jadi satu

Isn’t it beautiful?


Terima kasih Mas Bagus ❤️️❤️️❤️️

Oke lanjut, karena Mas udah disini jadi artinya bisa long weekend dengan bahagia 😜 Untuk kegiatan long weekend kita kali ini kita mau nonton salah satu film keluaran Marvel yaitu “Guardian of The Galaxy” sebenernya gak terlalu tau gimana film nya karena gak ngikutin dari awal, tapi review dimana – mana bagus jadi i shoul give it a try. Karena ini salah satu kesukaan Mas, akhirnya gue memutuskan nawarin dia untuk nonton film nya yang kursinya goyang-goyang, ada asepnya dll. Haha. “Yang, nonton 4DX yuk? Nanti kursinya bisa goyang-goyang loh!” dengan nada meyakinkan, seperti fenny rose jualan apartemen plus sok mau mraktekin gitu. Gayung bersambut akhirnya kita memutuskan harus nonton 4DX – 3D.

Untuk bioskop yang punya feature 4DX itu ada di CGV Blitz. Meluncur lah kita ke Grand Indonesia dan kita pilih jam 19.30. Kita berdua gak sabar banget mau nonton dengan efek kursi goyang-goyang. Haha.


Cerita sedikit ya tentang 4DX. Apasih 4DX? 4DX secara kasat mata sih kaya bioskop biasa ada kursi dan layar. Bedanya apa?

  1. Kursi. Kursinya dibagi per empat kursi. Gak panjang kaya yang biasa. Terus kursi mereka bisa bergerak mengikuti pergerakan pemain yang ada di layar. Kalo kalian pernah ke dufan, naik robocop? Nah kurang lebih kaya gitu. Atau kalo pernah ke Universal Studio Singapore, kaya kita main Wahana Shrek.
  2. Lighting. Disini juga ada efek cahaya kilat, kalo misal di film nya ada cahaya-cahaya muncul. Ini bikin agak kaget. Hehe
  3. Efek asap. Kalo pemainnya lagi berantem atau si pesawatnya jatoh, kan suka ada asap keluar, nah nanti di depan layar ada juga tuh asap keluar. Asal jangan dibarengi dengan keluarnya si Tante Kunti aja ya hiiy! 
  4. Efek angin. Ini enak sih. Jadi kalo misalnya di film nya lagi naik mobil terus ada angin sepoy-sepoy nanti kita bakal ngerasain juga sensasi si angin sepoy-sepoy. Beuuh!
  5. Efek scent atau bau-bau an. Kalo kemarin sih gak ada, karena gak ada mengekspos bau. Jadi ga ngerasain tuh. 
  6. Efek air. Ini katanya juga ada, tapi kemarin ga ngerasain. Nanti ada air yang di percikan ke kita kalo ada adegan basah-basahan.
  7. 3D or 2D. Untuk 3D or 2D ini saya belom bisa bedain. Kemarin cobain yang 3D, itu pake kacamata. Kalo yang 2D asumsi saya ya cuma nonton biasa cuma ga pake kacamata dan gambar ga keluar.​

    Source : traxfm.com

    Source : id.bookmyshow.com

Nah itu tadi review setelah gue nonton pertama kali 4DX – 3D . Ohya, buat harganya , kemarin nonton berdua di GI totalnya adalah Rp. 320.000. Cukup mahal sih cuma buat 2 jam nonton, tapi buat yang mau cobain sensasi baru nonton bioskop, ga nyesel deh, really worth it 😊

am I really ready for this? what if….

Am I really ready for this? itu pertanyaan yang selalu muncul di benak orang-orang ketika memutuskan untuk keluar dari comfort zone mereka. Pertanyaan tersebut gak jarang membuat mikir dua kali, yang hasilnya bikin ragu, galau dan gundah gulana. tapi di balik itu semua, pertanyaan itu bagi saya kaya sebuah alert, pengingat bahwa semua tindakan punya konsekuensi. Apakah saya siap? siap menjalani? siap menerima konsekuensi?

Am I really ready for this? Pertanyaan ini ada saat moment besar dalam hidup saya, waktu pertama kali harus merantau. waktu pertama kali mewakili fakultas di lomba debat. waktu harus pergi ke negeri Paman Sam mewakili universitas saya untuk simulasi konferensi sidang PBB di Universitas Harvard. waktu saya diminta jadi ketua di sebuah kelompok belajar. waktu saya dapet pekerjaan pertama saya di sebuah perusahaan multi nasional. waktu saya pertama perform buat pekerjaan saya. waktu saya dipercaya mewakili perusahaan membawakan acara di depan ratusan, bahkan ribuan orang.

Waktu ada seorang yang meminta saya menemani dia seumur hidupnya. dilamar!

Kaya apasih rasanya di lamar? Pastinya seneng dong, kayak anak kecil yang mau wisata ke dufan, perginya masih minggu depan, senyam senyum ga bisa tidurnya udah dari seminggu sebelumnya! hehe.  Seneng aja ada orang yang pada akhirnya mau nerima gue, completely!

Pertama Mas Bagus ke rumah, kirain cuma mau ngenalin diri ke keluarga, gak taunya dia langsung mengutarakan niatnya kepada Mama, Papa dan Mbah Putri. WOW. udah gak sempet mikir, AM I REALLY READY FOR THIS??? Walau sebenernya sebelum pertemuan ini kita memang sepakat bahwa hubungan kita mengarah ke pernikahan.

Rencana demi rencana tersusun rapih dalam agenda kita berdua untuk mempersiapkan pernikahan. masih dalam euphoria seneng ‘bok dilamar pria tampan, rupawan nan darmawan (nama terakhir dia hehe) pertanyaan pengingat itu sirna, gak pake nanya sama diri sendiri, langsung siap! hehe

Semakin dekat dengan hari lamaran dan pernikahan, tiba – tiba semua hal sepele jadi besar, terutama masalah perang batin sama diri sendiri. apakah gue bener-bener siap? Am I really ready for this? katanya sih ini bakal dialami sama semua calon pengantin, I don’t know.

Permasalahan dimulai! Perbedaan mulai berasa. Kenapasih cowo gue gak suka sama John Mayer? Kenapa cowo gue gak tau Zooey Deschannel? Kenapasih cowo gue gak suka bola? kenapa kenapa dan kenapa? Sempet mikir, bisa gak yah hidup sama orang yang beda sama gue?

Luput dari perhatian gue, bahwa mungkin juga hal yang sama dirasakan oleh pasangan gue. Mungkin dia juga mendambakan perempuan yang suka music klasik, yang bisa menari ballet, yang bisa berbahasa jawa, yang bisa masak gudeg, yang bisa main music dan lain lain. tapi kenapa si Mas ini kok kayanya adem ayem aja dapet perempuan yang mungkin jauh dari ekspektasi dia. satu yang dia tanamkan dari awal ke saya, keyakinan dan komitmen. nulisnya aja terharu.

Gak semua yang kita pengen bisa kita dapetin, karena emang fairy tale does NOT exist unless you create your own story. Gak semua yang kita pikir perfect akan fits sama kita. You deserve what you deserves, you deserves to be happy. And happiness doesn’t just come from up above, you create it. Kadang kita lebih mentingin ego kita ketimbang akal sehat. kadang kita terlalu memberatkan pandangan kita untuk melihat sebuah masalah jadinya berat sebelah. kalau bahasa medianya mah ga cover both sides hehe.

Keraguan dan ketakutan yang muncul itu BELUM TERJADI. BELUM.

untitled

Enter a caption

Apapun jawaban dari pertanyaan Am I really ready for this, akan menghasilkan sebuah konsekuensi yang bisa mengubah kehidupan kalian, menjadi lebih baik atau menjadi pelajaran untuk kedepannya. because everything happens for a reason, kata orang-orang sih gitu.

Apakah gue siap? gimana kalau???? Dear bridezilla percayalah, pertanyaan itu memang harus ada sebagai pengingat kita agar tetap was-was dalam menentukan pilihan. Keraguan itu pasti ada, karena disetiap keputusan ada banyak pilihan. Selama keputusan dirasa tidak merugikan dan membebankan siapapun terutama diri sendiri, I think WHY NOT?

 

so Am I really ready for this? YES I AM! 🙂

Kamu gimana? masih ragu sama calon kamu?

 

 

 

 

 

 

Wedding Preparation – Pre Wedding Photoshoot

Hi there Fellas! Pada kesempatan ini gue akan membahas tentang salah satu persiapan wedding/pernikahan gue yaitu adalah pre wedding atau kalau di luar sana dikenal dengan engagement photo. Pre wedding sendiri booming di indonesia dipertengahan taun 2000an, dimana foto pre wedding tidak hanya menjadi pajangan pelengkap dekorasi pernikahan tapi juga di sisipkan dan dicetak di undangan.

Pre wedding menjadi satu barang wajib bagi para calon manten karena tentu saja selain buat mengabadikan moment pada saat masih pacaran, foto ini juga ajang pamer nanti ke anak-anak “itu tuh mamah cakep kan waktu muda” hehe.

Pre wedding yang beredar sekarang bisa dibilang keren dan konsepnya aneh-aneh. Dari mulai foto yang bertema profesi si calon manten, hobby mereka, tema dimana yang menggambarkan bagaimana cerita perjalanan, tema ala ala princess disney dan banyak deh macemnya! Sebagai calon penganten yang tentu saja mengikuti perkembangan dunia pernikahan di Indonesia, gue pun juga mau dong pake pre wedding, biar kayak orang-orang hehe. Walaupun sebenernya, gue dan calon, mas Bagus kita gak mematok kalo pre wedding itu wajib, karena bagi kita yang penting SAH hahaha.

Karena prinsip kita maunya simple dan tapi tetep mau ada pre wedding jadilah kita berdua “”harus memutar otak, konsep apa yang akan dipakai. ngeliat website wedding dan hasil foto pendahulu wedding plus temen-temen kok kayanya ribet pisan ya mau foto! kenapa ribet? karena ngeliat contoh foto dimana si calon manten harus berbusana misalnya ala princess yang gaunnya naudzubila gede dan berat plus hair do dan make up yang cetar membahana, dan foto tersebut dilakukan di…….hutan misalnya, atau di perahu, atau di jalanan. kebayang sih gimana panas, ribet, dan malunya akika diliatin orang. Dan yang menjadi concern gue adalah pertanggungjawabannya, pertanggungjawaban foto tersebut terhadap anak-anak saya. “Mah kenapasih di jalan raya pake gaun? mah kenapa sih di hutan belantara pake kebaya?” begitulah kira-kira pikiran saya. sekali lagi itu hanya pikiran saya yah, everyone has a different taste.

Akhirnya saya memutuskan untuk foto pre wedding hanya di studio dengan tema magazine photoshoot. kenapa pilih tema ini? dipikiran saya foto dengan tema foto studio dengan tone color yang tidak terlalu dibuat-dibuat, edit minimalis, make up yang elegant masih bisa dipertanggung jawabkan untuk anak-anak saya, ini loh nak foto mama muda, kece kan, gak ditengah hutan pake gaun 😦 . Setelah disepakati sama Mas Bagus, akhirnya kita cari referensi, tips buat cari-cari referensi begini yang keren dan gak pasaran kalian cari di pinterest. ini contohnya pre wedding yang gue maksud

Akhirnya gue memutuskan prewedding setelah acara lamaran berlangsung. pertama harus book studio dan photographer. untuk studio, gue sewa studio di Lomoto depok dengan harga weekend Rp.500.000 / 3hours, dan untuk photo and videographer gue pakai jasa teman kuliah saya yang hasil jepretannya ciamik, kalau ada yang minat boleh japri gue, karena belum komersil dijamin harga oke check ignya @williabi dan @kingwiguna. ohya, yang gak kalah penting kita kan harus cakep ya secara foto itu abadi ya. untuk make up artist, pake jasa the one and only mba @meiliaanggraeni, si baik hati dan make up nya baguusss bgt! oke berikut hasil raw dari foto prewedding gue

Hasil foto nya nanti bakal di bikin black and white atau berwarna tapi tetap minimalis. karena sesuai tema, magazine photoshoot dan monochrome. everlasting. Gimana hasilnya? belum di edit sih tapi liat hasil raw nya aja udah puas! ohya untuk video nya gimana? videonya juga ga ada ala ala nya, alias video nya itu dibikin dengan tema BTS photo shoot sebuah majalah, tau kan? belum ada yang jadi tapi so far puas bgt!

sekarang gue mau jabarin plus minus nya prewedding di studio ya

PLUS nya adalah, pastinya ga ribet, mau ganti baju ada changing room, gerah ada ac, ada lighting, ga perlu keringetan, efisiensi waktu dan tempat, ga perlu cari cari spot, make up lebih kece, ga bergantung sm cuaca,lagi foto tetiba hujan dll itu nyebelin sih. yang pasti dalam waktu 3 jam gue dapet foto sampai 5 baju dimana para calon manten biasanya hanya 3.

MINUS nya adalah foto lo terbatas dalam ruangan, paling mentok kalo mau tematik ya hanya bisa pergunakan properti yang ada di sana dan gak semua studio punya properti yang oke.

 

Jadi, mau prewedding kayak gimana nih brides to be? it’s your choice!